Warna-warni Grafiti Mengepung Kota
Setiap hari, tiap kali menempuh ruas jalan di Jakarta, sekali waktu mata Anda mungkin pernah tergoda memerhatikan warna-warni coretan cat semprot yang menempel di dinding kosong, halte, tiang listrik, dinding seng, hingga badan bus metro mini.
Bunyinya bisa macam-macam, mulai dari sekadar nama sebuah sekolah penguasa jalur sepanjang rute bus, tuntutan kepada pemerintah, hingga tulisan-dilengkapi gambar-dengan desain dan komposisi warna yang rumit.Goresan itu terbagi dua yaitu grafiti (coretan) dan mural (lukisan). Kehadirannya pun punya dua makna, memperindah atau malah dianggap mengotori pemandangan.
Buktinya, lukisan mural karya para perupa dalam ajang Jak@rt lima tahun lalu justru dihapus Pemda DKI Jakarta.
Sebaliknya di Yogyakarta, kedua karya itu justru jadi bagian tak terpisahkan dari kota itu. “Yogyakarta harus diakui sebagai tempat tumbuh kembang grafiti dan mural. Di sana jauh lebih berkembang dibandingkan kota-kota lain,” ujar Ing, salah satu pentolan grafiti Bandung yang juga pemilik distro Wadezig.
Sementara itu, di Jakarta selama menyusuri ruas jalan Jakarta, saya mencatat setidaknya ada beberapa seniman grafiti yang rajin ngebom atau membuat karya mereka di seantero tembok kusam Ibu Kota.
Sebut saja Darbotz alias Darma Adhitia, pendiri TembokBomber.com yang lebih suka disebut sebagai street artist daripada artis grafiti, karena dia tidak hanya berkarya dengan cat semprot, tapi juga dengan cat biasa dan sticker.
Terkenal dengan karakter ‘cumi’ yang menghiasi jalan-jalan di Jabotabek, misinya adalah untuk membuat karakternya terkenal menjadi sebuah brand.
Ada Toter Crew, diperkuat Kicky dan Wormo pada pertengahan 2002. Toter atau Total Teror, berasal dari kata gaul Malaysia, berarti mantap. Toter mulai berkreasi di jalanan sejak 2004. Keduanya percaya bahwa grafiti jalanan bukanlah perusakan, dan jalanan adalah sebuah galeri yang besar dan bebas.
Pada saat masih belajar ngebom di jalan-jalan Jakarta, mereka bergabung dengan TembokBomber. Sekarang keduanya bekerja sebagai desain grafis paruh waktu.Ada pula Tutu alias Age yang termasuk senior dunia seni Jakarta. Ketika stensil belum ada, kita bisa temukan hasil karya stensilnya berupa karakter beruang Winnie the Pooh & wajah misterius di bemo dan bajaj di Kemang, daerah kekuasaan Tutu. Saat ini dia bekerja sebagai 3D Animator di SpatLab dan Animagic. Baginya, street art adalah cara untuk menunjukkan kritik sosial.
Lalu ada Modern Crew, alias Echo. Sejak demam seni grafiti mulai melanda Jakarta pada 1997, seniman ini dikenal memiliki teknik pewarnaan yang sangat bagus. Dengan karyanya, dia selalu mencoba untuk menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar ekspresi.
Filed under: Grafiti





Nanti yeh